Wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit ini
masih diperdebatkan hingga saat ini, banyak pihak yang meragukan luasnya
wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit ini, salah satunya adalah seorang arkeolog
UI, Drs. Hasan Djafar termasuk dalam golongan ini dengan alibinya 'tidak ada
sumber yang mengatakan seperti itu' ketika diajukan pertanyaan "bahwa
Majapahit punya wilayah Nusantara yang teritorinya seperti Republik
Indonesia" .
Pernyataan beliau ( Drs. Hasan Djafar , seorang ahli arkeologi,
epigrafi dan sejarah kuno, yang saat ini menjadi dosen di Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budaya, jurusan Arkeologi, Universitas Indonesia, dengan NIP.
070603037tersebut dalam http://sains.kompas.com/
read/2013/10/13/2012358/ Faktanya.Nusantara.Bukanlah.Wilayah. Majapahit ,
artinya secara implisit ia menolak wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit
sebagaimana yang telah umum diterima hingga saat ini. Bagaimana dengan
wikipedia ? Wikipedia menyebutkannya dengan wilayah taklukan Majapahit seperti
berikut : Menurut kitab Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII dan XIV, berikut
adalah daerah- daerah yang diakui sebagai taklukan atau bawahan Majapahit
(disebut sebagai maƱcanagara). Negara-negara taklukan di Jawa tidak disebut
karena masih dianggap sebagai bagian dari "mandala" kerajaan. Perlu
disadari bahwa nama-nama di bawah ini adalah berdasarkan klaim Majapahit dan
belum pernah ditemukan bukti mengenai pengakuan suatu daerah atas kekuasaan
negara itu. Termasuk Kerajaan Sunda dan Madura, karena Majapahit mengklaim
seluruh Tanah Jawa. (http://id.wikipedia.org/wiki/
Wilayah_taklukan_Majapahit ) Uraian wikipedia tentang wilayah kerajaan
Majapahit Point penting yang menyangkal luas wilayah kekuasaan kerajaan
Majapahit tersebut dapat kita sederhanakan menjadi beberapa point, yaitu : 1.
Bahwa tidak ada sumber yang mengatakan seperti itu. 2. Bahwa nama-nama daerah
kekuasaan tersebut berdasarkan klaim Majapahit . 3. Bahwa belum pernah
ditemukan bukti-bukti mengenai pengakuan kekuasaan Majapahit. 4. Bahwa
Majapahit mengklaim seluruh tanah Jawa. Baiklah mari kita periksa satu demi
satu alasan tersebut sebagai berikut : Kita semua dapat mengetahui luas wilayah
kekuasaan kerajaan Majapahit ini berdasarkan uraian Pupuh XIII dan Pupuh XIV
kitab Negarakretagama buah karya Mpu Prapanca yang selesai ditulis pada tahun
1287 Saka atau 1365 M. Pupuh XIII menuturkan sebagai berikut : Terperinci demi
pulau negara bawahan, paling dulu M'layu, Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya
pun ikut juga disebut, Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar
dan Pane, Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang, negara Perlak dan Padang.
Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus, Itulah
terutama negara-negara Melayu yang t'lah tunduk, Negara-negara di pulau
Tanjungnegara, Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas,
Lawai ikut tersebut. Pupuh XIV menuturkan sebagai berikut : Kadandangan, Landa
Samadang dan Tirem tak terlupakan, Sedu, Barune (ng), Kalka, Saludung, Solot
dan juga Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei, Malano tetap
yang terpenting di pulau Tanjungpura. Di Hujung Medini Pahang yang disebut
paling dahulu, Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta Trengganu, Johor,
Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah, Jerai, Kanjapiniran, semua
sudah lama terhimpun. Di sebelah Timur Jawa seperti yang berikut, Bali dengan
negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah, Gurun serta Sukun, Taliwang, pulau
Sapi dan Dompo, Sang Hyang Api, Bima, Seran, Hutan Kendali sekaligus. Pulau
Gurun, yang biasa disebut Lombok Merah, Dengan daerah makmur Sasak diperintah
seluruhnya, Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk, Sampai Udamakatraya
dan pulau lain- lainnya tunduk. Tersebut pula pulau-pulau Makasar, Buton,
Banggawi, Kunir, Galian serta Salayar, Sumba, Solot, Muar, Lagi pula Wanda (n),
Ambon atau pulau Maluku, Wanin, Seran, Timor dan beberapa lagi pulau- pulau
lain. Dan jika dipetakan, luas wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit tersebut
adalah seperti gambar di bawah ini : Selanjutnya di dalam Pupuh XVI bagian yang
ke 5, menyebutkan sebagai berikut : Semua negara yang tunduk setia menganut
perintah,Dijaga dan dilindungi Sri Nata dari pulau Jawa,Tapi yang membangkang,
melanggar perintah, dibinasakanPimpinan angkatan laut, yang telah mashur lagi
berjasa. Dari uraian pupuh ini dapat disimpulkan tentang adanya penguasaan
mutlak kerajaan Majapahit atas wilayah- wilayah kerajaan sebagaimana yang telah
disebutkan dalam dua pupuh terdahulu. Mengenai wilayah di sebelah Barat pulau
Jawa dituturkan dalam Pupuh XVI terutama bagian ke 2 dan 4 sebagai berikut :
Konon kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata (ajaran Budha), Dalam
perjalanan mengemban perintah Baginda Nata (Hayam Wuruk), Dilarang menginjak
tanah sebelah Barat pulau Jawa, Karena penghuninya bukan penganut ajaran Budha.
Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja, Dikirim ke Timur ke Barat,
di mana mereka sempat, Melakukan persajian seperti perintah Sri Nata, Resap
terpandang mata jika mereka sedang mengajar. Dari uraian kedua bagian dari
Pupuh XVI tersebut di atas dapat dianalogikan bahwa tanah di sebelah Barat
pulau Jawa adalah juga merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit, namun
dalam hal ini ada kekhususan tidak boleh dijamah oleh pendeta-pendeta agama
Budha. Mengenai wilayah pulau Madura, disebutkan di dalam Pupuh XV bagian yang
kedua sebagai berikut : " Tentang pulau Madura, tidak dipandang negara
asing, karena sejak dahulu dengan Jawa menjadi satu .... ". Dengan
demikian pulau Madura termasuk pula dalam wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit
karena telah menjadi satu dengan pulau Jawa sejak dahulu. Dari uraian kitab
Negarakretagama ini dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa sebenarnya wilayah
kekuasaan kerajaan Majapahit lebih luas dari wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang ada saat ini. Pengakuan terhadap kekuasaan kerajaan Majapahit
ini pada dasarnya dilakukan dengan "mempersembahkan pajak upeti"
sebagaimana yang diuraikan dalam Pupuh XV bagian yang ketiga, sebagai berikut :
Semenjak nusantara menadah perintah Sri Baginda, Tiap musim tertentu
mempersembahkan pajak upeti, Terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan,
Pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti. Jelaslah sudah bahwa pengakuan
kekuasaan kerajaan Majapahit terhadap daerah-daerah yang telah disebutkan di
atas dilakukan dengan "persembahan pajak upeti". Dengan pemaparan
tersebut di atas jelaslah sudah bahwa ada terdapat sumber yang jelas tentang
wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit yaitu uraian di dalam kitab
Negarakretagama sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Selanjutnya
bukti-bukti pengakuan terhadap kekuasaan kerajaan Majapahit ini dilakukan
dengan persembahan pajak upeti tiap- tiap musim tertentu. Terakhir kali,
marilah kita telusuri siapa penulis kitab Negarakretagama tersebut agar kita
dapat membuktikan bahwa tidak ada klaim wilayah kekuasaan oleh Majapahit .
Mengenai penulis kitab Negarakretagama ini dapat kita uraikan sebagai berikut :
Naskah ini selesai ditulis pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September –
Oktober 1365 Masehi), penulisnya menggunakan nama samaran Prapanca, berdasarkan
hasil analisis kesejarahan yang telah dilakukan diketahui bahwa penulis naskah
ini adalah Dang Acarya Nadendra, bekas pembesar urusan agama Buddha
(Dharmadhyaksa Kasogatan) di istana Majapahit sebagaimana yang diuraikan dalam
Piagam Trawulan 1358 M. Beliau adalah putera dari seorang pejabat istana di
Majapahit dengan pangkat jabatan Dharmadyaksa Kasogatan juga yaitu Dang Acarya
Kanakamuni. Penulis naskah ini menyelesaikan naskah kakawin Negarakretagama di
usia senja dalam pertapaan di lereng gunung di sebuah desa bernama Kamalasana.
Hingga sekarang umumnya diketahui bahwa pujangga "Mpu Prapanca"
adalah penulis Nagarakretagama. Dari uraian di atas, jelaslah kepada kita semua
bahwa apa yang dituliskan oleh Prapanca dalam bukunya tersebut bukanlah
merupakan sebuah klaim kerajaan Majapahit namun lebih kepada kenyataan yang
terjadi pada waktu itu. Ia menulis dan menyelesaikan kitab Negarakretagama di
tempat yang jauh dari pusat kerajaan Majapahit yaitu dalam pertapaan di lereng
gunung di sebuah desa Kamalasana. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa
penulisan kitab Negarakretagama ini sama sekali tidak ada campur tangan atau
rekayasa dari pihak istana Majapahit , namun murni keluar dari hati nuraninya
sendiri (sebagai pertapa) berdasarkan fakta-fakta yang pernah beliau alami
selama menjadi Dharmadhyaksa Kasogatan. Selanjutnya tujuan dari penulisan kitab
Negarakretagama ini diuraikan dalam Pupuh XCIV bagian yang kedua, dengan
kalimat berikut : " Segenap desa tersusun dalam rangkaian, pantas disebut
desawarnana, dengan maksud agar Baginda ingat jika membaca hikmat kalimat
". Desawarnana adalah judul asli kitab Negarakretagama ini, dan tujuan
penulisan semata-mata hanyalah untuk mengingatkan Baginda (dalam hal ini Prabhu
Hayam Wuruk) bilamana membaca kitab ini , artinya sama sekali jauh dari
unsur-unsur politik ataupun keinginan pribadi yang berbau politis, karena selama
hidupnya Prapanca adalah seorang pendeta urusan agama Budha dan bukan pejabat
kerajaan yang berkaitan dengan politik dan atau penguasaan terhadap suatu
wilayah kerajaan. Tambahan tentang kitab Negarakretagama. Naskah
Nagarakretagama awalnya disimpan di Leiden dan diberi nomor kode L Or 5.023.
Lalu dengan kunjungan Ratu Juliana, Belanda ke Indonesia pada tahun 1973,
naskah ini diserahkan kepada Republik Indonesia. Konon naskah ini langsung
disimpan oleh Ibu Tien Soeharto di rumahnya, namun ini tidak benar. Naskah
disimpan di Perpustakaan Nasional RI dan diberi kode NB 9 . Kakawin
Nagarakretagama pada tahun 2008 telah diakui sebagai bagian dalam Daftar
Ingatan Dunia (Memory of the World Programme) oleh UNESCO . Dengan uraian yang
panjang lebar tersebut, akhirnya penulis berkesimpulan bahwa uraian Prapanca
tentang wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit dalam bukunya kitab
Negarakretagama LEBIH DAPAT DIPERCAYA daripada uraian wikipedia dan atau
statemen Drs. Hasan Djafar, karena mereka berdua bukanlah pelaku- pelaku
sejarah Majapahit yang sebenarnya. Mereka hanya bisa menganalisa sumber-sumber
sejarah Majapahit kemudian menafsirkannya (berdasarkan analisa pribadi) dengan
suatu penafsiran yang belum tentu benar adanya . Berbeda dengan Prapanca, ia
adalah pelaku sejarah kejayaan kerajaan Majapahit yang asli (karena memang
benar-benar hidup pada masa kejayaan kerajaan Majapahit tersebut). Satu hal
yang terpenting, kitab Negarakretagama telah diakui oleh dunia, kenapa kita
sebagai bangsa yang mewarisi kitab tersebut saat ini menolaknya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar